PEMBENIHAN LELE
Persiapan Wadah
1.1 Kolam Tanah
Kolam tanah yang digunakan dalam pemeliharaan induk lele berukuran 10 x 7 m dengan ketinggian kolam 2 m dan ketinggian air 1 m serta kemiringan pematang 1 : 1,5. Inlet kolam menggunakan pipa paralon 1,5 inchi, sedangkan outlet menggunakan pipa paralon 3 inchi.
1.2 Bak Semen
Ukuran bak semen yang digunakan dalam pemeliharaan induk lele adalah 2 x 2 x 1 m serta dilengkapi inlet (0.5 inchi) dan outlet (3 inchi),
1.3 Persiapan Induk
1.3.1 Pemeliharaan Induk
Induk maupun calon induk yang akan dipijahkan ditampung dalam bak yang khusus, yaitu bak pemeliharaan induk. Induk betina dan induk jantan dipelihara di dalam satu bak. Agar tidak terjadinya pemijahan liar maka di dalam bak tersebut diberi lumpur setebal ± 5 cm hal ini bertujuan untuk calon induk yang akan kita pijahkan tidak terangsang.
Pada pemeliharaan induk diberi pakan yang bermutu baik, pemberian pakan pellet dengan kandungan protein minimal 30 % pakan diberikan secara adlibitum (secukupnya). Padat penebaran induk yang dipelihara per m² tergantung dari kondisi baik pakan dan sistem pengairannya. Padat penebaran lele untuk pematangan gonad umumnya dilakukan di bak dengan kepadatan 4-6 ekor/m. Induk yang dipelihara diberi pakan berupa pellet dengan kandungan tertentu.
1.3.2 Seleksi Induk siap di pijah
Pemeliharaan atau seleksi induk dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kematangan gonad induk yang akan kita pijah. Induk yang akan digunakan untuk pemijahan harus sudah benar-benar siap memijah. Induk yang diseleksi benar-benar bibit unggul dengan pertumbuhan yang bagus dan baik, tidak cacat dan sehat. Induk lele yang kita pijah berumur 1 tahun atau lebih, berat induk minimal 0.5 kg/ekor.
Ciri – ciri induk jantan :
Warna alat kelamin terlihat kemerahan
Bentuk Urogenetal meruncing
Bentuk tulang kepala lebih mendatar
Warna tubuh hitam
Apabila di urut akan mengeluarkan cairan yang berwarna putih susu.
Ciri – ciri induk betina :
Alat kelaminnya kemerahan
Bentuk Urogenetal membulat
Bentuk tulang kepala agak cembung
Warna tubuhnya lebih cerah
Perut membesar dan bila di urut akan mengeluarkan telur yang berwarna kuning kecoklatan.
1.3.3 Persiapan bak pemijahan
Persiapan bak pemijahan dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan bak dalam kondisi optimal bagi lele yang dilakukan pemijahannya secara maksimal. Pesiapan bak pemijahan tersebut mencakup pengeringan, pengisian air, dan pemasangan kakaban sebagai tempat menempelnya telur yang telah dipijahkan.
1.3.4 Jenis dan ukuran bak pemijahan
Dinding dan dasar bak pemijahan hendaknya dari semen dan memakai fiberglas. Tujuan dilakukannya kegiatan tersebut agar mempermudah dibersihkan dan air tidak mudah keruh dan kotor. Ukuran bak pemijahan 2 x 2 x 1 m.
1.3.5 Pembersihan dan pengeringan bak pemijahan
Sebelum dilakukannya pemasukan air bak terlebih dahulu dibersihkan dengan cara, menyikat kotoran yang menempel di dinding dan didasar bak lalu dibilas dengan air bersih sampai kotorannya hilang. Kemudian dikeringkan dengan cara penjemuran oleh cahaya matahari selama 1 – 2 hari. Dasar bak yang benar- benar kering biasanya ditandai dengan bau ampo (tanah). Bau ampo tersebut yang sangat khas itu dapat merangsang induk lele untuk memijah.
1.3.6 Pemasukan Air
Bak di isi air dengan kecerahan 100 % (air jernih) dengan ketinggian 40-70 cm. apabial sumber air kurang jernih sebaiknya air diendapkan terlebih dahulu ke tandon.
1.3.7 Sirkulasi air pada bak pemijahan
Sebaiknya dalam suatu bak pemijahan ada air masuk dan keluar, pemasukan air tesebut diatur dengan sirkulasi dan dengan kecepatan aliran 2-3 liter/detik. Pada outlet dibuat pelimpahan air dengan tujuan agar tidak meluap ke bibir bak. Selain itu, untuk membuang kotoran lender setelah terjadinya pemijahan dan untuk menjaga telur maupin larva ikut terkena tumpahan air.
1.3.8 Aerasi
Untuk menyuplai oksigen selam proses pemijahan berlangsung, untuk itu perlu selang aerasi, selang aerasi, dan batu pemberat. Jumlah aerasi yang dbutuhkan 3 unit untuk 1 bak pemijahan.
1.4 Pemasangan kakaban
Bak pemijahan lele biasanya dilengkapi kakaban yang terbuat dari ijuk, kakaban barfungsi sebagai tempat menempelnya telur agar tidak berserakan dan kotor karena tenggelam di dasar bak. Kakaban yang dari ijuk yang di sisir halus dan di jepit dengan bilah bambu, kemudian di paku.
1.5 Kualitas Air
Air adalah faktor terpenting dalam budidaya ikan, bukan hanya ikan lele tetapi semua jenis ikan yang lainnya juga memerlukan air untuk hidup dan berkembangbiak. Untuk lebih jelasnya parameter kualitas air dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2. Parameter Kualitas Air
No
Parameter
Keterangan
1
Suhu
25 – 30oC
2
Ph
6.5 – 8.5
3
Debit air
0.5 liter/detik
4
Tinggi air
30 – 40 cm
5
Pergantian air
10 – 15% perhari
6
Kecerahan
25 – 35 cm
7
DO
3 ppm
Sumber data : BLUPPB Karawang
1.6 Proses Pembenihan
1.6.1 Pemijahan
Pemijahan dilakukan pada sore hari, kira-kira jam 16.00-17.00 wib, induk jantan dan betina yang telah matang gonad kemudian dimasukkan ke dalam bak pemijahan yang telah dilengkapi dengan kakaban dan aerasi. Untuk Selanjutnya bak pemijahan di tutup agar induk lele tidak melompat, induk biasanya memijah pada malam hari mulai dari jam 00.00-03.00. Setelah induk memijah induk dipindahkan ke dalam bak induk.
1.6.2 Penetasan Telur
Kakaban yang telah berisi telur kemudian di balik. Dengan tujuan larva dari telur yang menetas tidak menempel kembali pada kakaban. Pada bak penetasan diusahakan sirkulasi air yang baik (adanya air masuk dan keluar), kurang lebih 12 jam biasanya telur tersebut telah menetas yang ditandai adanya burayak atau larva yang berenang di dasar dan di antara kakaban dalam bak. Kemudian kakaban diangkat setelah telur menetas semua, biasanya larva yang dihasilkan ± 20.000 ekor.
1.6.3 Pemeliharaan Larva
Larva yang baru menetas tidak perlu diberikan pakan karena masih mempunyai cadangan kuningan telur sebagai cadangan makanan yang biasanya habis pada umur 2-3 hari. Setelah cadangan makanan habis larva dapat diberi pakan cacing sutra. Cacing sutra diberikan pada umur 3-7 hari kemudian dikenalkan dengan pelet halus hingga larva berumur 10 hari. Kemudian dipindahkan ke dalam kolam terpal yang berukuran 3-5 m, selama ± 30 hari. Jika terlihat larva yang dipelihara bertambah ukurannya perlu dilakukan grading. Jenis pakan yang diberikan berupa Hiprovite 581. Berikut ini tabel kandungan pakan.
Tabel 3. Jenis Kandungan Pakan Hiprovite 581
No
Kandungan
Keterangan
1
Protein
Min 40%
2
Lemak
Max 11%
3
Abu
Min 6%
4
Kadar air
Max 3%
Sumber data : BLUPPB Karawang
1.6.4 Grading
Grading dilakukan dengan tujuan menyeragamkan ukuran larva. Larva yang tidak seragam ukurannya kemungkinan terjadinya kanibalisme. Grading dilakukan pada setiap 10 hari sekali setelah dilakukannya grading benih yang berukuran sama akan dipindahkan ke dalam 1 wadah terpal.
PENDEDERAN BENIH
2.1 Persiapan Kolam Pendederan
Terlebih dahulu kolam dibersihkan dengan menyikat disekeliling dinding dan dasar kolam dengan menggunakan saringan hitam supaya kotorannya bersih dan terpal yang digunakan tidak rusak. Kemudian dikeringkan dengan bantuan matahari selama 1 hari, kolam dirapikan kembali untuk persiapan pemasukan air
2.2 Pemasukan Air
Sumber air yang digunakan berasal dari sumur bor yang ditampung ke dalam bak tendon. Kemudian dialirkan dengan menggunakan pompa, jenis pompa yang digunakan. dengan menggunakan bantuan pipa paralon, jarak sumber air dari bak tandon ke kolam terpal ± 100 m, dengan ketinggian air awal 30 cm.
2.3 Penebaran Benih
Penebaran benih dilakukan pada pagi hari, supaya suhunya tidak terlalu panas. kisaran suhu optimum pada saat penebaran 26-29ºC, aklimatisasi suhu dilakukan dengan menambahkan air kolam sedikit demi sedikit kedalam ember. Kemudian benih tersebut ditebar dengan perlahan-lahan dengan populasi awal 20.000 – 25000 ekor/kolam. Penghitung populasi awal dengan menggunakan alat takaran.
2.4 Sampling Pertumbuhan Benih
Sampling dilakukan setiap 10 hari sekali dengan cara sampel diambil secara acak sebanyak 15 ekor. Kemudian ditimbang analitik di laboratorium secara perindividu untuk diambil berat rata-ratanya. Untuk sampling populasinya menggunakan alat takaran kembali sambil dilakukannya gradingan. Kemudian jumlah padat tebar dikurangi 50 % dari populasi awal. Pada tahap ini terjadinya pemindahan benih dari satu kolam menjadi dua kolam, karena pertumbuhan lele akan semakin membesar maka dari itu akan terjadinya pengurangan populasi.
2.5 Pemanenan Benih Lele
Panen dilakukan pada saat pagi hari karena kondisi suhu masih rendah untuk itu menjaga agar tidak terjadinya stress pada benih lele. Alat-alat yang digunakan pada pemanenan adalah jarring, skopnet, ember, hapa dan timbangan. Panen dilakukan dengan cara lele dijaring terlebih dahulu ulntuk mengurangi populasi, kemudian air dalam kolam dibuang secara perlahan-lahan, agar sisa benih yang masih tertinggal didalm kolam tidak terbuang maka dilakukan penyaringan dari pintu pembuangan. Lalu benih tersebut ditampung pada happa yang telah disediakan.
2.6 Grading Benih Lele
Setelah benih lele ditampung pada happa lalu perlu dilakukan penggradingan, dengan tujuan agar keseragaman benih larva tersebut dapat terjaga. Grading dilakukan dengan cara menggunakan ayakan yang terbuat dari ember, yang telah dilubangi dengan ukuran tertentu.
Ukuran penggradingan adalah :
1-3 cm untuk benih lele yang berumur 12 hari
3-5 cm untuk benih lele yang berumur 28 hari
5-7 cm untuk benih lele yang berumur 35 hari.
7- 9 cm untuk benih lele yang berumur 47 hari.
9 – 11 cm untuk benih lele yang berumur 55 hari
Kemudian benih lele yang telah digrading ditebar ke kolam tanah sesuai dengan ukuran lele yang telah digrading.
Benih yang telah di grading dipelihara di kolam tanah selama ± 3 minggu. Dengan kualitas airnya :
DO : 4 ppm
pH : 6,5-8.5
Kecerahan : 50 cm
Pengisian Air : 10-30 %
Suhu : 28-30 cm
Setelah lele dipelihara selama ± 3 minggu lele tersebut di panen kembali untuk dibesarkan di kolam lainnya. Biasanya untuk ukuran lele yang di besarkan berukuran size 6,8.
TINGGALKAN KOMENTAR
PEMBENIHAN IKAN KERAPU MACAN (EPINEPHELUS FUSCOGUTTATUS)
JANUARI 16, 2013
25102011886
PENDAHULUAN
Indonesia adalah Negara yang memiliki kekayaan sumberdaya perikanan yang sangat melimpah baik didarat maupun dilaut. Perikanan merupakan salah satu sumberdaya alam yang sampai sekarang menjadi salah satu sumber penyongkong kebutuhan protein hewani bagi masyarakat, dan sebagai sumber mata pencaharian bagi masyarakat.
Pemamfaatan perairan laut secara maksimal berdampak pada berkurangnya sumberdaya perikanan laut, oleh karena itu perlu dilakukan pengembangan di bidang budidaya ikan, salah satunya pembudidayaan ikan kerapu macan.
Ikan Kerapu (Epinephelus sp) umumnya dikenal dengan istilah “groupers” dan merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai peluang baik dipasarkan domestik maupun pasar internasional. Ikan kerapu macan mempunyai bentuk badan yang memanjang gepeng, mulut, lebar serong keatas dengan bibir bawah menonjol keatas, rahang bawah dan atas dilengkapi gigi berderet secara teratur. Ikan Kerapu mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan untuk dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat dan dapat diproduksi massal.
1.BIOLOGI
2.Habitat Dan Penyebaran Ikan Kerapu Macan
Klasifikasi
Ikan kerapu macan (Epinehelus fuscoguttatus) digolongkan pada :
Class : Chondrichthyes
Sub class : Ellasmobranchii
Ordo : Percomorphi
Divisi : Perciformes
Famili : Serranidae
Genus : Epinephelus
Daerah penyebaran ikan kerapu macan dimulai dari Afrika timur, kepulauan ryukyu (Jepang Selatan ), Australia, Taiwan (Katayana, 1990). Habitat benih ikan kerapu macan adalah pantai yang banyak ditumbuhi algae jenis reticulata dan Gracilaria sp, setelah dewasa hidup di perairan yang lebih dalam dengan dasar terdiri dari pasar berlumpur. Ikan kerapu termasuk jenis karnivora dan cara makannya “mencaplok” satu persatu makan yang diberikan sebelum makanan sampai ke dasar. Pakan yang paling disukai kenis krustaceae (rebon, dogol dan krosok),
TEKNIK PEMBENIHAN
3.1 Penyediyaan Induk
Keberhasilan suatu usaha pembenihan sangat ditentukan pada ketersediaan induk yang cukup, baik dalam jumlah dan kuantitas serta keseragaman. Induk betina yang siap untuk dipijahkan memiliki berat badan lebih dari 4 kg sedangkan induk jantan lebih dari 6 kg, sehat dan tidak cacat.
3.2 Seleksi Induk.
Kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warnan putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi, yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan, kemudian dihisap. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya, garis tengah (diameter) telor diatas 450 mikron
25102011889 25102011885
gambar Seleksi induk
3.3 Pemijahan
Pemijahan ikan kerapu macan yaitu : pemijahan dengan Manipulasi Lingkungan Untuk merangsang terjadinya perkawinan antara induk jantan dengan induk betina digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol. Teknik pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam, yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-faktor lingkungan seperti suhu, kadar garam, kedalaman air dan lain-lain. Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan; pada saat bulan terang atau bulan gelap.Induk yang telah matang kelamin ditempatkan di bak pemijahan dengan perbamdingan jantan dan betina 1:2
3.4 Seleksi Telur
Ikan kerapu macan menghasilkan telur dalam jumlah yang berbeda sesuai dengan ukuran tubuhnya. Induk yang lebih besar akan menghasilkan telur yang lebih banyak dibandingkan dengan induk yang ukuran yang lebih kecil
3.5 Penetasan
Bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva, sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan, perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 – 100 ppm. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Telur akan menetas dalam waktu 18 – 22 jam
13102011843
Gambar Telur yang tidah terbuahi
DSCN0936
Gambar Larva yang menetas
3.6 Pemeliharaan Larva
Pemeliharaan larva dimulai dengan penebaran larva kedalam bak pemeliharaan larva. Larva yang berumur satu hari (D1) sampai (D2) berwarna putih transparan, pergerakannya mengikuti arah arus air, penglihatannya belum berfungsi dan masih mempunyai yolk egg (kuning telur ) sebagai cadangan makanan sehingga larvabelum membutuhkan tambahan pakan dari luar tubuh, pada saat larva sudah berumur (D3) cadangan makanan atau kuning telur telah habis,sehingga larva membutuhkan pakan dari luar tubuhnya.
3.7 Pakan
Karena kuning telur sudah habis maka perlu diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 – 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Phytoplankton chlorella sp dengan kepadatan antara 5.10 – 10 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16) dengan penambahan secara bertahap hingga mencapai kepadatan 5 – 10 ekor/ml plytoplankton 10 – 2.10 sel/ml media. Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25 – 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 – 5 ekor/ml media. Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari.
04112011971
Gambar pemberian Rotifer
DSCN0945
Gambar jenis Artemia
3.8 Pengelolaan Kualitas Air
telur yang tidak menetas dan sisa cangkang telur yang ditinggalkan Akan mengalami pembusukkan maka pembersihan dasar bak dengan cara penyiponan dilakukan pada hari pertama dengan maksud untuk membuang sisa-sisa telur yang tidak menetas dan cangkang telur. Penggantian air dilaksanakan pertama kali pada saat larva berumur 6 hari (D6) yaitu sebanyak 5 – 10%. Penggantian air dilakukan setiap hari dan dengan bertambahnya umur larva, maka volume air yang perlu diganti juga semakin banyak. Pada saat larva telah berumur 30 hari (D30) pengganti air dilakukan sebanyak 20% dan bila larva telah berumur 40 hari (D40) air yang diganti sebanyak 40%.
3.9 Pemanenan
Cara pemanenan dengan mengurangi air, hingga tersisa seperempat bagian, kemudian dialirkan lewat saringan pembuangan dan larva akan mengapung pada bak pemanenan,bak pemanenan dilengkapi dengan waring halus.
TINGGALKAN KOMENTAR
KULTUR NANNOCHLOROPSIS SP
JANUARI 16, 2013
Pendahuluan
Tersedianya pakan merupakan salah satu faktor pendukung dalam keberhasilan usaha budidaya ikan. Pemberian pakan dengan kualitas yang baik serta dalam jumlah yang cukup akan memperbesar tingkat kehidupan larva ikan. Pakan dalam kegiatan budidaya digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami dapat dijadikan sebagai alternatif guna memenuhi kebutuhan pakan ikan. Hal tersebut disebabkan karena pakan alami mudah di dapat dalam jumlah yang banyak sehingga dapat menunjang kelangsung hidupan larva ikan karena pakan alami memililki kandungan nutrisi tinggi dan memilki ukuran yang cukup bagi bukaan mulut larva. Pakan alami dapat dilakukan dengan melakukan kultur fitoplankton yang salah satunya budidaya Nannochloropsis sp.
Fitoplankton ini berukuran 2-4 mikron, berwarna hijau dan memilki dua flagella (Heterokontous) yang salah satu flagela berambut tipis. Nannochloropsis sp memiliki kloroplas dan nucleus yang dilapisi membran. Kloroplas memiliki stigma (bintik mata) yang bersifat sensitif terhadap cahaya. Nannochloropsis sp dapat erfotosintesis karena memiliki klorofil. Cirri khas dari Nannochloropsis sp adalah memiliki dinding sel yang terbuat dari komponen selulosa. (Sleigh, 1989; Williams, 1991)
CCMP527_Nannochloropsis_ccmp527_1
Gambar Nannochloropsis sp
Menurut Anonim (2008), klasifikasi Nannochloropsis sp. berikut :
Kingdom : Chromista
Filum : Heterokonta
Kelas : Eustigmatophyceae
Sub-kelas : Bacillariophycideae
Genus : Nannochloropsis
Species : Nannochloropsis sp.
Nannochloropsis sp bersifat kosmopolit dapat tumbuh pada salinitas 0-35 ppt. salinitas optimum untuk pertumbuhannya adalah 25-35 ppt, suhu 25-300C merupakan kisaran suhu yang optimal Fitoplankton ini dapat tumbuh baik pada kisaran pH 8-9,5 dan intensitas cahaya 100-10000 lux (Nannochloropsis sp lebih dikenal dengan nama Chlorela laut dikultur untuk pakan barchionus plicatilis atau Rotifer karena mengandung Vitamin B12 dan Eicosapentaenoic acid (EPA) sebesar 30,5 % dan totral kandungan omega 3 HUFAs sebesar 42,7%, serta mengandung protein 57,02 % . vitamin B12 sangat penting untuk populasi rotifer dan EPA penting untuk nilai nutrisinya sebagai pakan larva dan juvenile ikan laut (Fulks dan Main 1991). Selain itu, mudah dikultur secara missal, tidak menimbulkan racun atau kerusakan ekosistem di bak pemeliharaan
Secara umum pertumbuhan fitoplankton dipengaruhi oleh parameter-parameter sebagai berikut:
pH
Derajat keasaman atau pH digambarkan sebagai keberadaan ion hidrogen. Variasi pH pada dapat mempengaruhi metabiolisme dan pertumbuhan kultur mikroalga antara lain mengubah keseimbangan karbon anorganik, mengubah ketersediaan nutrien dan mempengaruhi fisiologi sel. Kisaran pH untuk kultur alga biasanya antara 7-9, kisaran optimum untuk alga laut berkisar antara 7,8-8,5. Secara umum kisaran pH yang optimum pada kultur Nannochloropsis sp. antara 7 – 9 (Anonim, 2008).
Salinitas
Kisaran salinitas yang berubah-ubah dapat mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton. Beberapa fitoplankton dapat tumbuh dalam kisaran salinitas yang tinggi tetapi ada juga yang dapat tumbuh dalam kisaran salinitas yang rendah. Namun, hampir semua jenis fitoplankton dapat tumbuh optimal pada salinitas sedikit dibawah habitat asal. Pengaturan salinitas pada medium yang diperkaya dapat dilakukan dengan pengenceran dengan menggunakan air tawar. Kisaran salinitas yang dimiliki oleh Nannochloropsis sp. antara 32–36 ppt, tetapi salinitas paling optimum untuk pertumbuhan Nannochloropsis sp. adalah 33-35 ppt (Anonim, 2008).
Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses kimia, biologi dan fisika, peningkatan suhu dapat menurunkan suatu kelarutan bahan dan dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi fitoplankton diperairan. Secara umum suhu optimal dalam kultur fitoplnkton berkisar antara 20-24oC. Suhu dalam kultur diatur sedemikian rupa bergantung pada medium yang digunakan. Suhu di bawah 16oC dapat menyebabkan kecepatan pertumbuhan turun, sedangkan suhu diatas 36oC dapat menyebabkan kematian. Beberapa fitoplankton tidak tahan terhadap suhu yang tinggi. Pengaturan suhu dalam kultur fitoplankton dapat dilakukan dengan mengalirkan air dingin ke botol kultur atau dengan menggunakan alat pengatur suhu udara (Taw, 1990)
Cahaya
Cahaya merupakan sumber energi dalam proses fotosintesis yang berguna untuk pembentukan senyawa karbon organik. Intensitas cahaya sangat menentukan pertumbuhan fitoplankton yaitu dilihat dari lama penyinaran dan panjang gelombang yang digunakan untuk fotosintesis. Cahaya berperan penting dalam pertumbuhan mikroalga, tetapi kebutuhannya bervariasi yang disesuaikan dengan kedalaman kultur dan kepadatannya. Kedalaman dan kepadatan kultur yang lebih tinggi menyebabkan intensitas cahaya yang dibutuhkan tinggi. Intensitas cahaya yang terlalu tinggi dapat menyebabkan fotoinhibisi dan pemanasan. Penggunaan lampu dalam kultur mikroalga minimal dinyalakan 18 jam per hari, hal tersebut dilakukan sampai mikroalga dapat tumbuh dengan konstan dan normal.(Coutteau, 1996)
Karbondioksida
Karbondioksida diperlukan oleh fitoplankton untuk memenbantu proses fotosintesis. Karbondioksida dengan kadar 1-2 % biasanya sudah cukup digunakan dalam kultur fitoplankton dengan intensitas cahaya yang rendah. Kadar karbondioksida yang berlebih dapat menyebabkan pH kurang dari batas optimum sehingga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan fitoplankton (Taw, 1990).
Nutrien
Fitoplankton mendapatkan nutrien dari air laut yang sudah mengandung nutrien yang cukup lengkap. Namun pertumbuhan fitoplankton dengan kultur dapat mencapai optimum dengan mencapurkan air laut dengan nutrien yang tidak terkandung dalam air laut tersebut. Nutrien tersebut dibagi menjadi makronutrien dan mikronutrien, makronutrien meliputi nitrat dan fosfat. Makronutrien yang berupa nitrat dan fospat merupakan pupuk dasar yang mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton. Nitrat adalah sumber nitrogen yang penting bagi fitoplankton baik di air laut maupun di air tawar. Bentuk kombinasi lain dari nitrogen seperti amonia, nitrit, dan senyawa organik dapat dapat digunakan apabila kekurangan nitrat. Mikronutrien organik merupakan kombinasi dari beberapa vitamin yang berbeda-beda. Vitamin tersebut antara lain B12, B1 dan Biotin. Mikronutrien tersebut digunakan fitoplankton untuk berfotosintesis (Taw, 1990)
Aerasi
Aerasi dalam kultur mikroalga diguanakan untuk proses pengadukan medium kultur. Pengadukan sangat penting dilakukan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya pengendapan sel, nutrien dapat tersebar sehingga mikroalga dalam kultur mendapatkan nutrien yang sama, mencegah sratifikasi suhu, dan meningkatkan pertukaran gas dari udara ke medium. (Taw, 1996)
Pertumbuhan fitoplankton dalam kultur dapat ditandai dengan bertambah besarnya ukuran sel atau bertambahnya banyaknya jumlah sel. Kepadatan sel dalam kultur Nannochloropsis sp. digunakan untuk mengetahui pertumbuhan jenis fitoplankton tersebut. Kecepatan tumbuh dalam kultur ditentukan dari medium yang di gunakan dan dapat dilihat dari hasil pengamatan kepadatan Nannochloropsis sp. yang dilakukan tiap 24 jam (1 hari) untuk kultur Nannochloropsis sp.. Pertumbuhan fitoplankton secara umum dapat dibagi menjadi lima fase yang meliputi fase lag, fase eksponensial, fase penurunan kecepatan pertumbuhan, fase stasioner dan fase kematian. Pada fase lag penambahan jumlah densitas fitoplankton sangat rendah atau bahkan dapat dikatakan belum ada penambahan densitas. Hal tersebut disebabkan karena sel-sel fitoplankton masih dalam proses adaptasi secara fisiologis terhadap medium tumbuh sehingga metabolisme untuk tumbuh manjadi lamban. Pada fase eksponensial, terjadi pertambahan kepadatan sel fitoplankton (N) dalam waktu (t) dengan kecepatan tumbuh (µ) sesuai dengan rumus eksponensial. Pada fase penurunan kecepatan tumbuh pembelahan sel mulai melambat karena kondisi fisik dan kimia kultur mulai membatasi pertumbuhan. Pada fase stasioner, faktor pembatas dan kecepatan tumbuh sama karena jumlah sel yang membelah dan yang mati seimbang. Sedangkan pada fase kematian, kualitas fisik dan kimia kultur berada pada titik dimana sel tidak mampu lagi mengalami pembelahan. Keberhasilan kultur ditandai dengan pertumbuhan yang semakin meningkat dari kepadatan fitoplankton, hal tersebut merupakan waktu generasi pertumbuhan fitoplankton, sehingga dapat dikatakan waktu generasi merupakan waktu yang diperlukan suatu fitoplankton untuk membelah dari satu sel menjadi beberapa sel dalam pertumbuhan.
Kultur Nannochloropsis sp. MASSAL
Pencucian Bak Kultur
Yaitu dengan menyikat dasar bak menggunakan sikat dengan tujuan membuang sisa – sisa pupuk dan kotoran yang melekat di dasar bak yang di buang melalui saluran outlet yang kemudian di bilas menggunakan ai tawar hingga sisa – sisa endapan pupuk bersih. Bak kemudian dikeringkan dengan bantuan sinar matahari langsung.
DSCN0940
Gambar pencucian bak
Pengisian Air laut
Bak yang telah bersih diisi dengan air laut sebagai media kultur. Pengisian air dapat dilakukan dengan menggunakan air laut yang telah di sterilkan terlebih dahulu dan ditampung di tandon yang kemudian di alirkan ke bak kultur massal nannochloropsis sp. menggunakan pipa PVC yang di pasang filter bag sebagai penyaring air yang masuk ke dalam bak kultur sehingga kotoran – kotoran yang terkandung pada air laut tidak masuk ke dalam bak kultur,
Pengisian Bibit
Setelah pengisian air laut maka dilakukan pengisian bibit, bibit yang digunakan 20-30 %
Pemberian Pupuk
Pupuk diberikan ntuk memacu pertumbuh phytoplankton. Pupuk yang digunakan dalam proses kultur nannochloropsis sp skala massal yaitu UREA, ZA, SP36, FeCl3, dan EDTA. Pupuk dilarutkan menggunakan 10 liter air tawar yang kemudian di aduk secara merata. Pupuk yang telah dilarutkan dapat ditebar pada media kultur tepat disetiap titik aerasi dengan tujuan pupuk dapat larut dengan rata pada air media kultur sehingga saat inokulasi (bibit) di masukan akan cepat menyerap nutrien (pupuk) yang diberikan
Tabel 7. Jenis pupuk dan dosis pemberian
No.
Jenis Pupuk
Dosis /ppm
1.
Urea
50 – 60 ppm
2.
ZA
30 – 40 ppm
3.
SP 36
20 – 25 ppm
4.
FeCl3
1 – 5 ppm
5.
EDTA
1 – 5 ppm
Foto-0012
Foto-0014
Gambar penimbangan pupuk
Pemanenan
Pemanenan dilakukan pada umur 5-6 hari Teknik panen menggunakan pompa celup dan di distribusi ke bak larva dan rotifer.
Selama masa pemeliharaan nannochloropsis sp. mengalami pertumbuhan dimana dapat dibagi menjadi 5 fase
Keterangan :
1. Fase adaptasi
2. Fase logaritmik/eksponensial
3. Fase stasioner
4. Fase penurunan
5. Fase kematian
PEMBENIHAN LELE
Persiapan Wadah
1.1 Kolam Tanah
Kolam tanah yang digunakan dalam pemeliharaan induk lele berukuran 10 x 7 m dengan ketinggian kolam 2 m dan ketinggian air 1 m serta kemiringan pematang 1 : 1,5. Inlet kolam menggunakan pipa paralon 1,5 inchi, sedangkan outlet menggunakan pipa paralon 3 inchi.
1.2 Bak Semen
Ukuran bak semen yang digunakan dalam pemeliharaan induk lele adalah 2 x 2 x 1 m serta dilengkapi inlet (0.5 inchi) dan outlet (3 inchi),
1.3 Persiapan Induk
1.3.1 Pemeliharaan Induk
Induk maupun calon induk yang akan dipijahkan ditampung dalam bak yang khusus, yaitu bak pemeliharaan induk. Induk betina dan induk jantan dipelihara di dalam satu bak. Agar tidak terjadinya pemijahan liar maka di dalam bak tersebut diberi lumpur setebal ± 5 cm hal ini bertujuan untuk calon induk yang akan kita pijahkan tidak terangsang.
Pada pemeliharaan induk diberi pakan yang bermutu baik, pemberian pakan pellet dengan kandungan protein minimal 30 % pakan diberikan secara adlibitum (secukupnya). Padat penebaran induk yang dipelihara per m² tergantung dari kondisi baik pakan dan sistem pengairannya. Padat penebaran lele untuk pematangan gonad umumnya dilakukan di bak dengan kepadatan 4-6 ekor/m. Induk yang dipelihara diberi pakan berupa pellet dengan kandungan tertentu.
1.3.2 Seleksi Induk siap di pijah
Pemeliharaan atau seleksi induk dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kematangan gonad induk yang akan kita pijah. Induk yang akan digunakan untuk pemijahan harus sudah benar-benar siap memijah. Induk yang diseleksi benar-benar bibit unggul dengan pertumbuhan yang bagus dan baik, tidak cacat dan sehat. Induk lele yang kita pijah berumur 1 tahun atau lebih, berat induk minimal 0.5 kg/ekor.
Ciri – ciri induk jantan :
Warna alat kelamin terlihat kemerahan
Bentuk Urogenetal meruncing
Bentuk tulang kepala lebih mendatar
Warna tubuh hitam
Apabila di urut akan mengeluarkan cairan yang berwarna putih susu.
Ciri – ciri induk betina :
Alat kelaminnya kemerahan
Bentuk Urogenetal membulat
Bentuk tulang kepala agak cembung
Warna tubuhnya lebih cerah
Perut membesar dan bila di urut akan mengeluarkan telur yang berwarna kuning kecoklatan.
1.3.3 Persiapan bak pemijahan
Persiapan bak pemijahan dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan bak dalam kondisi optimal bagi lele yang dilakukan pemijahannya secara maksimal. Pesiapan bak pemijahan tersebut mencakup pengeringan, pengisian air, dan pemasangan kakaban sebagai tempat menempelnya telur yang telah dipijahkan.
1.3.4 Jenis dan ukuran bak pemijahan
Dinding dan dasar bak pemijahan hendaknya dari semen dan memakai fiberglas. Tujuan dilakukannya kegiatan tersebut agar mempermudah dibersihkan dan air tidak mudah keruh dan kotor. Ukuran bak pemijahan 2 x 2 x 1 m.
1.3.5 Pembersihan dan pengeringan bak pemijahan
Sebelum dilakukannya pemasukan air bak terlebih dahulu dibersihkan dengan cara, menyikat kotoran yang menempel di dinding dan didasar bak lalu dibilas dengan air bersih sampai kotorannya hilang. Kemudian dikeringkan dengan cara penjemuran oleh cahaya matahari selama 1 – 2 hari. Dasar bak yang benar- benar kering biasanya ditandai dengan bau ampo (tanah). Bau ampo tersebut yang sangat khas itu dapat merangsang induk lele untuk memijah.
1.3.6 Pemasukan Air
Bak di isi air dengan kecerahan 100 % (air jernih) dengan ketinggian 40-70 cm. apabial sumber air kurang jernih sebaiknya air diendapkan terlebih dahulu ke tandon.
1.3.7 Sirkulasi air pada bak pemijahan
Sebaiknya dalam suatu bak pemijahan ada air masuk dan keluar, pemasukan air tesebut diatur dengan sirkulasi dan dengan kecepatan aliran 2-3 liter/detik. Pada outlet dibuat pelimpahan air dengan tujuan agar tidak meluap ke bibir bak. Selain itu, untuk membuang kotoran lender setelah terjadinya pemijahan dan untuk menjaga telur maupin larva ikut terkena tumpahan air.
1.3.8 Aerasi
Untuk menyuplai oksigen selam proses pemijahan berlangsung, untuk itu perlu selang aerasi, selang aerasi, dan batu pemberat. Jumlah aerasi yang dbutuhkan 3 unit untuk 1 bak pemijahan.
1.4 Pemasangan kakaban
Bak pemijahan lele biasanya dilengkapi kakaban yang terbuat dari ijuk, kakaban barfungsi sebagai tempat menempelnya telur agar tidak berserakan dan kotor karena tenggelam di dasar bak. Kakaban yang dari ijuk yang di sisir halus dan di jepit dengan bilah bambu, kemudian di paku.
1.5 Kualitas Air
Air adalah faktor terpenting dalam budidaya ikan, bukan hanya ikan lele tetapi semua jenis ikan yang lainnya juga memerlukan air untuk hidup dan berkembangbiak. Untuk lebih jelasnya parameter kualitas air dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2. Parameter Kualitas Air
No
Parameter
Keterangan
1
Suhu
25 – 30oC
2
Ph
6.5 – 8.5
3
Debit air
0.5 liter/detik
4
Tinggi air
30 – 40 cm
5
Pergantian air
10 – 15% perhari
6
Kecerahan
25 – 35 cm
7
DO
3 ppm
Sumber data : BLUPPB Karawang
1.6 Proses Pembenihan
1.6.1 Pemijahan
Pemijahan dilakukan pada sore hari, kira-kira jam 16.00-17.00 wib, induk jantan dan betina yang telah matang gonad kemudian dimasukkan ke dalam bak pemijahan yang telah dilengkapi dengan kakaban dan aerasi. Untuk Selanjutnya bak pemijahan di tutup agar induk lele tidak melompat, induk biasanya memijah pada malam hari mulai dari jam 00.00-03.00. Setelah induk memijah induk dipindahkan ke dalam bak induk.
1.6.2 Penetasan Telur
Kakaban yang telah berisi telur kemudian di balik. Dengan tujuan larva dari telur yang menetas tidak menempel kembali pada kakaban. Pada bak penetasan diusahakan sirkulasi air yang baik (adanya air masuk dan keluar), kurang lebih 12 jam biasanya telur tersebut telah menetas yang ditandai adanya burayak atau larva yang berenang di dasar dan di antara kakaban dalam bak. Kemudian kakaban diangkat setelah telur menetas semua, biasanya larva yang dihasilkan ± 20.000 ekor.
1.6.3 Pemeliharaan Larva
Larva yang baru menetas tidak perlu diberikan pakan karena masih mempunyai cadangan kuningan telur sebagai cadangan makanan yang biasanya habis pada umur 2-3 hari. Setelah cadangan makanan habis larva dapat diberi pakan cacing sutra. Cacing sutra diberikan pada umur 3-7 hari kemudian dikenalkan dengan pelet halus hingga larva berumur 10 hari. Kemudian dipindahkan ke dalam kolam terpal yang berukuran 3-5 m, selama ± 30 hari. Jika terlihat larva yang dipelihara bertambah ukurannya perlu dilakukan grading. Jenis pakan yang diberikan berupa Hiprovite 581. Berikut ini tabel kandungan pakan.
Tabel 3. Jenis Kandungan Pakan Hiprovite 581
No
Kandungan
Keterangan
1
Protein
Min 40%
2
Lemak
Max 11%
3
Abu
Min 6%
4
Kadar air
Max 3%
Sumber data : BLUPPB Karawang
1.6.4 Grading
Grading dilakukan dengan tujuan menyeragamkan ukuran larva. Larva yang tidak seragam ukurannya kemungkinan terjadinya kanibalisme. Grading dilakukan pada setiap 10 hari sekali setelah dilakukannya grading benih yang berukuran sama akan dipindahkan ke dalam 1 wadah terpal.
PENDEDERAN BENIH
2.1 Persiapan Kolam Pendederan
Terlebih dahulu kolam dibersihkan dengan menyikat disekeliling dinding dan dasar kolam dengan menggunakan saringan hitam supaya kotorannya bersih dan terpal yang digunakan tidak rusak. Kemudian dikeringkan dengan bantuan matahari selama 1 hari, kolam dirapikan kembali untuk persiapan pemasukan air
2.2 Pemasukan Air
Sumber air yang digunakan berasal dari sumur bor yang ditampung ke dalam bak tendon. Kemudian dialirkan dengan menggunakan pompa, jenis pompa yang digunakan. dengan menggunakan bantuan pipa paralon, jarak sumber air dari bak tandon ke kolam terpal ± 100 m, dengan ketinggian air awal 30 cm.
2.3 Penebaran Benih
Penebaran benih dilakukan pada pagi hari, supaya suhunya tidak terlalu panas. kisaran suhu optimum pada saat penebaran 26-29ºC, aklimatisasi suhu dilakukan dengan menambahkan air kolam sedikit demi sedikit kedalam ember. Kemudian benih tersebut ditebar dengan perlahan-lahan dengan populasi awal 20.000 – 25000 ekor/kolam. Penghitung populasi awal dengan menggunakan alat takaran.
2.4 Sampling Pertumbuhan Benih
Sampling dilakukan setiap 10 hari sekali dengan cara sampel diambil secara acak sebanyak 15 ekor. Kemudian ditimbang analitik di laboratorium secara perindividu untuk diambil berat rata-ratanya. Untuk sampling populasinya menggunakan alat takaran kembali sambil dilakukannya gradingan. Kemudian jumlah padat tebar dikurangi 50 % dari populasi awal. Pada tahap ini terjadinya pemindahan benih dari satu kolam menjadi dua kolam, karena pertumbuhan lele akan semakin membesar maka dari itu akan terjadinya pengurangan populasi.
2.5 Pemanenan Benih Lele
Panen dilakukan pada saat pagi hari karena kondisi suhu masih rendah untuk itu menjaga agar tidak terjadinya stress pada benih lele. Alat-alat yang digunakan pada pemanenan adalah jarring, skopnet, ember, hapa dan timbangan. Panen dilakukan dengan cara lele dijaring terlebih dahulu ulntuk mengurangi populasi, kemudian air dalam kolam dibuang secara perlahan-lahan, agar sisa benih yang masih tertinggal didalm kolam tidak terbuang maka dilakukan penyaringan dari pintu pembuangan. Lalu benih tersebut ditampung pada happa yang telah disediakan.
2.6 Grading Benih Lele
Setelah benih lele ditampung pada happa lalu perlu dilakukan penggradingan, dengan tujuan agar keseragaman benih larva tersebut dapat terjaga. Grading dilakukan dengan cara menggunakan ayakan yang terbuat dari ember, yang telah dilubangi dengan ukuran tertentu.
Ukuran penggradingan adalah :
1-3 cm untuk benih lele yang berumur 12 hari
3-5 cm untuk benih lele yang berumur 28 hari
5-7 cm untuk benih lele yang berumur 35 hari.
7- 9 cm untuk benih lele yang berumur 47 hari.
9 – 11 cm untuk benih lele yang berumur 55 hari
Kemudian benih lele yang telah digrading ditebar ke kolam tanah sesuai dengan ukuran lele yang telah digrading.
Benih yang telah di grading dipelihara di kolam tanah selama ± 3 minggu. Dengan kualitas airnya :
DO : 4 ppm
pH : 6,5-8.5
Kecerahan : 50 cm
Pengisian Air : 10-30 %
Suhu : 28-30 cm
Setelah lele dipelihara selama ± 3 minggu lele tersebut di panen kembali untuk dibesarkan di kolam lainnya. Biasanya untuk ukuran lele yang di besarkan berukuran size 6,8.
TINGGALKAN KOMENTAR
PEMBENIHAN IKAN KERAPU MACAN (EPINEPHELUS FUSCOGUTTATUS)
JANUARI 16, 2013
25102011886
PENDAHULUAN
Indonesia adalah Negara yang memiliki kekayaan sumberdaya perikanan yang sangat melimpah baik didarat maupun dilaut. Perikanan merupakan salah satu sumberdaya alam yang sampai sekarang menjadi salah satu sumber penyongkong kebutuhan protein hewani bagi masyarakat, dan sebagai sumber mata pencaharian bagi masyarakat.
Pemamfaatan perairan laut secara maksimal berdampak pada berkurangnya sumberdaya perikanan laut, oleh karena itu perlu dilakukan pengembangan di bidang budidaya ikan, salah satunya pembudidayaan ikan kerapu macan.
Ikan Kerapu (Epinephelus sp) umumnya dikenal dengan istilah “groupers” dan merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai peluang baik dipasarkan domestik maupun pasar internasional. Ikan kerapu macan mempunyai bentuk badan yang memanjang gepeng, mulut, lebar serong keatas dengan bibir bawah menonjol keatas, rahang bawah dan atas dilengkapi gigi berderet secara teratur. Ikan Kerapu mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan untuk dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat dan dapat diproduksi massal.
1.BIOLOGI
2.Habitat Dan Penyebaran Ikan Kerapu Macan
Klasifikasi
Ikan kerapu macan (Epinehelus fuscoguttatus) digolongkan pada :
Class : Chondrichthyes
Sub class : Ellasmobranchii
Ordo : Percomorphi
Divisi : Perciformes
Famili : Serranidae
Genus : Epinephelus
Daerah penyebaran ikan kerapu macan dimulai dari Afrika timur, kepulauan ryukyu (Jepang Selatan ), Australia, Taiwan (Katayana, 1990). Habitat benih ikan kerapu macan adalah pantai yang banyak ditumbuhi algae jenis reticulata dan Gracilaria sp, setelah dewasa hidup di perairan yang lebih dalam dengan dasar terdiri dari pasar berlumpur. Ikan kerapu termasuk jenis karnivora dan cara makannya “mencaplok” satu persatu makan yang diberikan sebelum makanan sampai ke dasar. Pakan yang paling disukai kenis krustaceae (rebon, dogol dan krosok),
TEKNIK PEMBENIHAN
3.1 Penyediyaan Induk
Keberhasilan suatu usaha pembenihan sangat ditentukan pada ketersediaan induk yang cukup, baik dalam jumlah dan kuantitas serta keseragaman. Induk betina yang siap untuk dipijahkan memiliki berat badan lebih dari 4 kg sedangkan induk jantan lebih dari 6 kg, sehat dan tidak cacat.
3.2 Seleksi Induk.
Kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warnan putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi, yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan, kemudian dihisap. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya, garis tengah (diameter) telor diatas 450 mikron
25102011889 25102011885
gambar Seleksi induk
3.3 Pemijahan
Pemijahan ikan kerapu macan yaitu : pemijahan dengan Manipulasi Lingkungan Untuk merangsang terjadinya perkawinan antara induk jantan dengan induk betina digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol. Teknik pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam, yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-faktor lingkungan seperti suhu, kadar garam, kedalaman air dan lain-lain. Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan; pada saat bulan terang atau bulan gelap.Induk yang telah matang kelamin ditempatkan di bak pemijahan dengan perbamdingan jantan dan betina 1:2
3.4 Seleksi Telur
Ikan kerapu macan menghasilkan telur dalam jumlah yang berbeda sesuai dengan ukuran tubuhnya. Induk yang lebih besar akan menghasilkan telur yang lebih banyak dibandingkan dengan induk yang ukuran yang lebih kecil
3.5 Penetasan
Bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva, sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan, perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 – 100 ppm. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Telur akan menetas dalam waktu 18 – 22 jam
13102011843
Gambar Telur yang tidah terbuahi
DSCN0936
Gambar Larva yang menetas
3.6 Pemeliharaan Larva
Pemeliharaan larva dimulai dengan penebaran larva kedalam bak pemeliharaan larva. Larva yang berumur satu hari (D1) sampai (D2) berwarna putih transparan, pergerakannya mengikuti arah arus air, penglihatannya belum berfungsi dan masih mempunyai yolk egg (kuning telur ) sebagai cadangan makanan sehingga larvabelum membutuhkan tambahan pakan dari luar tubuh, pada saat larva sudah berumur (D3) cadangan makanan atau kuning telur telah habis,sehingga larva membutuhkan pakan dari luar tubuhnya.
3.7 Pakan
Karena kuning telur sudah habis maka perlu diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 – 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Phytoplankton chlorella sp dengan kepadatan antara 5.10 – 10 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16) dengan penambahan secara bertahap hingga mencapai kepadatan 5 – 10 ekor/ml plytoplankton 10 – 2.10 sel/ml media. Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25 – 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 – 5 ekor/ml media. Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari.
04112011971
Gambar pemberian Rotifer
DSCN0945
Gambar jenis Artemia
3.8 Pengelolaan Kualitas Air
telur yang tidak menetas dan sisa cangkang telur yang ditinggalkan Akan mengalami pembusukkan maka pembersihan dasar bak dengan cara penyiponan dilakukan pada hari pertama dengan maksud untuk membuang sisa-sisa telur yang tidak menetas dan cangkang telur. Penggantian air dilaksanakan pertama kali pada saat larva berumur 6 hari (D6) yaitu sebanyak 5 – 10%. Penggantian air dilakukan setiap hari dan dengan bertambahnya umur larva, maka volume air yang perlu diganti juga semakin banyak. Pada saat larva telah berumur 30 hari (D30) pengganti air dilakukan sebanyak 20% dan bila larva telah berumur 40 hari (D40) air yang diganti sebanyak 40%.
3.9 Pemanenan
Cara pemanenan dengan mengurangi air, hingga tersisa seperempat bagian, kemudian dialirkan lewat saringan pembuangan dan larva akan mengapung pada bak pemanenan,bak pemanenan dilengkapi dengan waring halus.
TINGGALKAN KOMENTAR
KULTUR NANNOCHLOROPSIS SP
JANUARI 16, 2013
Pendahuluan
Tersedianya pakan merupakan salah satu faktor pendukung dalam keberhasilan usaha budidaya ikan. Pemberian pakan dengan kualitas yang baik serta dalam jumlah yang cukup akan memperbesar tingkat kehidupan larva ikan. Pakan dalam kegiatan budidaya digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami dapat dijadikan sebagai alternatif guna memenuhi kebutuhan pakan ikan. Hal tersebut disebabkan karena pakan alami mudah di dapat dalam jumlah yang banyak sehingga dapat menunjang kelangsung hidupan larva ikan karena pakan alami memililki kandungan nutrisi tinggi dan memilki ukuran yang cukup bagi bukaan mulut larva. Pakan alami dapat dilakukan dengan melakukan kultur fitoplankton yang salah satunya budidaya Nannochloropsis sp.
Fitoplankton ini berukuran 2-4 mikron, berwarna hijau dan memilki dua flagella (Heterokontous) yang salah satu flagela berambut tipis. Nannochloropsis sp memiliki kloroplas dan nucleus yang dilapisi membran. Kloroplas memiliki stigma (bintik mata) yang bersifat sensitif terhadap cahaya. Nannochloropsis sp dapat erfotosintesis karena memiliki klorofil. Cirri khas dari Nannochloropsis sp adalah memiliki dinding sel yang terbuat dari komponen selulosa. (Sleigh, 1989; Williams, 1991)
CCMP527_Nannochloropsis_ccmp527_1
Gambar Nannochloropsis sp
Menurut Anonim (2008), klasifikasi Nannochloropsis sp. berikut :
Kingdom : Chromista
Filum : Heterokonta
Kelas : Eustigmatophyceae
Sub-kelas : Bacillariophycideae
Genus : Nannochloropsis
Species : Nannochloropsis sp.
Nannochloropsis sp bersifat kosmopolit dapat tumbuh pada salinitas 0-35 ppt. salinitas optimum untuk pertumbuhannya adalah 25-35 ppt, suhu 25-300C merupakan kisaran suhu yang optimal Fitoplankton ini dapat tumbuh baik pada kisaran pH 8-9,5 dan intensitas cahaya 100-10000 lux (Nannochloropsis sp lebih dikenal dengan nama Chlorela laut dikultur untuk pakan barchionus plicatilis atau Rotifer karena mengandung Vitamin B12 dan Eicosapentaenoic acid (EPA) sebesar 30,5 % dan totral kandungan omega 3 HUFAs sebesar 42,7%, serta mengandung protein 57,02 % . vitamin B12 sangat penting untuk populasi rotifer dan EPA penting untuk nilai nutrisinya sebagai pakan larva dan juvenile ikan laut (Fulks dan Main 1991). Selain itu, mudah dikultur secara missal, tidak menimbulkan racun atau kerusakan ekosistem di bak pemeliharaan
Secara umum pertumbuhan fitoplankton dipengaruhi oleh parameter-parameter sebagai berikut:
pH
Derajat keasaman atau pH digambarkan sebagai keberadaan ion hidrogen. Variasi pH pada dapat mempengaruhi metabiolisme dan pertumbuhan kultur mikroalga antara lain mengubah keseimbangan karbon anorganik, mengubah ketersediaan nutrien dan mempengaruhi fisiologi sel. Kisaran pH untuk kultur alga biasanya antara 7-9, kisaran optimum untuk alga laut berkisar antara 7,8-8,5. Secara umum kisaran pH yang optimum pada kultur Nannochloropsis sp. antara 7 – 9 (Anonim, 2008).
Salinitas
Kisaran salinitas yang berubah-ubah dapat mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton. Beberapa fitoplankton dapat tumbuh dalam kisaran salinitas yang tinggi tetapi ada juga yang dapat tumbuh dalam kisaran salinitas yang rendah. Namun, hampir semua jenis fitoplankton dapat tumbuh optimal pada salinitas sedikit dibawah habitat asal. Pengaturan salinitas pada medium yang diperkaya dapat dilakukan dengan pengenceran dengan menggunakan air tawar. Kisaran salinitas yang dimiliki oleh Nannochloropsis sp. antara 32–36 ppt, tetapi salinitas paling optimum untuk pertumbuhan Nannochloropsis sp. adalah 33-35 ppt (Anonim, 2008).
Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses kimia, biologi dan fisika, peningkatan suhu dapat menurunkan suatu kelarutan bahan dan dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi fitoplankton diperairan. Secara umum suhu optimal dalam kultur fitoplnkton berkisar antara 20-24oC. Suhu dalam kultur diatur sedemikian rupa bergantung pada medium yang digunakan. Suhu di bawah 16oC dapat menyebabkan kecepatan pertumbuhan turun, sedangkan suhu diatas 36oC dapat menyebabkan kematian. Beberapa fitoplankton tidak tahan terhadap suhu yang tinggi. Pengaturan suhu dalam kultur fitoplankton dapat dilakukan dengan mengalirkan air dingin ke botol kultur atau dengan menggunakan alat pengatur suhu udara (Taw, 1990)
Cahaya
Cahaya merupakan sumber energi dalam proses fotosintesis yang berguna untuk pembentukan senyawa karbon organik. Intensitas cahaya sangat menentukan pertumbuhan fitoplankton yaitu dilihat dari lama penyinaran dan panjang gelombang yang digunakan untuk fotosintesis. Cahaya berperan penting dalam pertumbuhan mikroalga, tetapi kebutuhannya bervariasi yang disesuaikan dengan kedalaman kultur dan kepadatannya. Kedalaman dan kepadatan kultur yang lebih tinggi menyebabkan intensitas cahaya yang dibutuhkan tinggi. Intensitas cahaya yang terlalu tinggi dapat menyebabkan fotoinhibisi dan pemanasan. Penggunaan lampu dalam kultur mikroalga minimal dinyalakan 18 jam per hari, hal tersebut dilakukan sampai mikroalga dapat tumbuh dengan konstan dan normal.(Coutteau, 1996)
Karbondioksida
Karbondioksida diperlukan oleh fitoplankton untuk memenbantu proses fotosintesis. Karbondioksida dengan kadar 1-2 % biasanya sudah cukup digunakan dalam kultur fitoplankton dengan intensitas cahaya yang rendah. Kadar karbondioksida yang berlebih dapat menyebabkan pH kurang dari batas optimum sehingga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan fitoplankton (Taw, 1990).
Nutrien
Fitoplankton mendapatkan nutrien dari air laut yang sudah mengandung nutrien yang cukup lengkap. Namun pertumbuhan fitoplankton dengan kultur dapat mencapai optimum dengan mencapurkan air laut dengan nutrien yang tidak terkandung dalam air laut tersebut. Nutrien tersebut dibagi menjadi makronutrien dan mikronutrien, makronutrien meliputi nitrat dan fosfat. Makronutrien yang berupa nitrat dan fospat merupakan pupuk dasar yang mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton. Nitrat adalah sumber nitrogen yang penting bagi fitoplankton baik di air laut maupun di air tawar. Bentuk kombinasi lain dari nitrogen seperti amonia, nitrit, dan senyawa organik dapat dapat digunakan apabila kekurangan nitrat. Mikronutrien organik merupakan kombinasi dari beberapa vitamin yang berbeda-beda. Vitamin tersebut antara lain B12, B1 dan Biotin. Mikronutrien tersebut digunakan fitoplankton untuk berfotosintesis (Taw, 1990)
Aerasi
Aerasi dalam kultur mikroalga diguanakan untuk proses pengadukan medium kultur. Pengadukan sangat penting dilakukan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya pengendapan sel, nutrien dapat tersebar sehingga mikroalga dalam kultur mendapatkan nutrien yang sama, mencegah sratifikasi suhu, dan meningkatkan pertukaran gas dari udara ke medium. (Taw, 1996)
Pertumbuhan fitoplankton dalam kultur dapat ditandai dengan bertambah besarnya ukuran sel atau bertambahnya banyaknya jumlah sel. Kepadatan sel dalam kultur Nannochloropsis sp. digunakan untuk mengetahui pertumbuhan jenis fitoplankton tersebut. Kecepatan tumbuh dalam kultur ditentukan dari medium yang di gunakan dan dapat dilihat dari hasil pengamatan kepadatan Nannochloropsis sp. yang dilakukan tiap 24 jam (1 hari) untuk kultur Nannochloropsis sp.. Pertumbuhan fitoplankton secara umum dapat dibagi menjadi lima fase yang meliputi fase lag, fase eksponensial, fase penurunan kecepatan pertumbuhan, fase stasioner dan fase kematian. Pada fase lag penambahan jumlah densitas fitoplankton sangat rendah atau bahkan dapat dikatakan belum ada penambahan densitas. Hal tersebut disebabkan karena sel-sel fitoplankton masih dalam proses adaptasi secara fisiologis terhadap medium tumbuh sehingga metabolisme untuk tumbuh manjadi lamban. Pada fase eksponensial, terjadi pertambahan kepadatan sel fitoplankton (N) dalam waktu (t) dengan kecepatan tumbuh (µ) sesuai dengan rumus eksponensial. Pada fase penurunan kecepatan tumbuh pembelahan sel mulai melambat karena kondisi fisik dan kimia kultur mulai membatasi pertumbuhan. Pada fase stasioner, faktor pembatas dan kecepatan tumbuh sama karena jumlah sel yang membelah dan yang mati seimbang. Sedangkan pada fase kematian, kualitas fisik dan kimia kultur berada pada titik dimana sel tidak mampu lagi mengalami pembelahan. Keberhasilan kultur ditandai dengan pertumbuhan yang semakin meningkat dari kepadatan fitoplankton, hal tersebut merupakan waktu generasi pertumbuhan fitoplankton, sehingga dapat dikatakan waktu generasi merupakan waktu yang diperlukan suatu fitoplankton untuk membelah dari satu sel menjadi beberapa sel dalam pertumbuhan.
Kultur Nannochloropsis sp. MASSAL
Pencucian Bak Kultur
Yaitu dengan menyikat dasar bak menggunakan sikat dengan tujuan membuang sisa – sisa pupuk dan kotoran yang melekat di dasar bak yang di buang melalui saluran outlet yang kemudian di bilas menggunakan ai tawar hingga sisa – sisa endapan pupuk bersih. Bak kemudian dikeringkan dengan bantuan sinar matahari langsung.
DSCN0940
Gambar pencucian bak
Pengisian Air laut
Bak yang telah bersih diisi dengan air laut sebagai media kultur. Pengisian air dapat dilakukan dengan menggunakan air laut yang telah di sterilkan terlebih dahulu dan ditampung di tandon yang kemudian di alirkan ke bak kultur massal nannochloropsis sp. menggunakan pipa PVC yang di pasang filter bag sebagai penyaring air yang masuk ke dalam bak kultur sehingga kotoran – kotoran yang terkandung pada air laut tidak masuk ke dalam bak kultur,
Pengisian Bibit
Setelah pengisian air laut maka dilakukan pengisian bibit, bibit yang digunakan 20-30 %
Pemberian Pupuk
Pupuk diberikan ntuk memacu pertumbuh phytoplankton. Pupuk yang digunakan dalam proses kultur nannochloropsis sp skala massal yaitu UREA, ZA, SP36, FeCl3, dan EDTA. Pupuk dilarutkan menggunakan 10 liter air tawar yang kemudian di aduk secara merata. Pupuk yang telah dilarutkan dapat ditebar pada media kultur tepat disetiap titik aerasi dengan tujuan pupuk dapat larut dengan rata pada air media kultur sehingga saat inokulasi (bibit) di masukan akan cepat menyerap nutrien (pupuk) yang diberikan
Tabel 7. Jenis pupuk dan dosis pemberian
No.
Jenis Pupuk
Dosis /ppm
1.
Urea
50 – 60 ppm
2.
ZA
30 – 40 ppm
3.
SP 36
20 – 25 ppm
4.
FeCl3
1 – 5 ppm
5.
EDTA
1 – 5 ppm
Foto-0012
Foto-0014
Gambar penimbangan pupuk
Pemanenan
Pemanenan dilakukan pada umur 5-6 hari Teknik panen menggunakan pompa celup dan di distribusi ke bak larva dan rotifer.
Selama masa pemeliharaan nannochloropsis sp. mengalami pertumbuhan dimana dapat dibagi menjadi 5 fase
Keterangan :
1. Fase adaptasi
2. Fase logaritmik/eksponensial
3. Fase stasioner
4. Fase penurunan
5. Fase kematian